RSS

PRETERM LABOR

10 Des

1. Definisi Persalinan Preterm :
a. Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2500 gram (Manuaba, 1998).
b. Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Saifuddin, 2002).
c. Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm (cukup bulan) berat janin antara 1000 sampai 2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu (Wiknjosastro, 2002).

2. Penyebab Persalinan Preterm
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui. Namun menurut Manuaba (1998), beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian persalinan prematur yaitu :

a. Faktor ibu
1) Keadaan sosial ekonomi rendah sehingga terjadi kurang gizi, perokok berat lebih dari 10 batang per hari, umur ibu hamil terlalu muda kurang dari 20 tahun atau terlalu tua diatas 35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, faktor pekerjaan yang terlalu berat.
2) Penyakit ibu yang menyertai kehamilan diantaranya hipertensi, diabetes mellitus, anemia, penyakit jantung, paru-paru, penyakit endokrin dan terdapat faktor rhesus. Menurut Winknjosastro (2002) hipertensi dapat menyebabkan persalinan prematur karena tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cenderung untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevalensi persalinan prematur meningkat. Dan pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat juga dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan.
b. Faktor penyakit kebidanan
1) Kehamilan hidramnion, gemeli, pre eklamsi-eklamsi.
2) Perdarahan antepartum pada solusio plasenta, plasenta previa, dan pecahnya sinus marginalis.
3) Kehamilan dengan ketuban pecah dini (KPD) yang menimbulkan gawat janin dan temperatur tinggi.

c. Faktor kelainan anatomi rahim
1) Keadaan rahim yang menimbulkan kontraksi dini yaitu servik inkompeten, amputasi serviks.
2) Kelainan kongenital rahim yaitu uterus arkuatus dan uterus sepsis.
3) Infeksi vagina asenden (naik) menjadi amniotis.
d. Faktor psikologi ibu terutama pada ibu muda dengan status belum menikah.
Sedangkan menurut Rompas (2004) faktor risiko yang dapat menyebabkan partus prematurus yaitu :
a. Faktor risiko mayor
Kehamilan multipel, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan pretem sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.

b. Faktor risiko minor
Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
3. Penilaian klinik
Menurut Saifuddin (2001), kriteria persalinan prematur antara lain kontraksi yang teratur dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya pengeluaraan lendir kemerahan atau cairan pervaginam dan diikuti salah satu berikut ini : (a) Pada periksa dalam, pendataran 50-80 persen atau lebih, pembukaan 2 cm atau lebih; (b) Mengukur panjang serviks dengan vaginal probe USG: panjang servik kurang dari 2 cm pasti akan terjadi persalinan prematur, tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan menghalangi terjadinya persalinan prematur, cara edukasi pasien bahkan dengan monitoring kegiatan di rumah tampaknya tidak memberi perubahan dalam insidensi kelahiran premature.
Menurut Mansjoer (2000) manifestasi klinik persalinan pretem adalah: (a) Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3 sampai 5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam; (b) Pada fase aktif , intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas.; (c) Tanya dan cari gejala yang termasuk faktor risiko mayor dan minor; (d) Usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggu; (e) Taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggu; (f) Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan preterm.
4. Pencegahan
Upaya pencegahan persalinan preterm dapat dilakukan sebagai berikut (Winkjosastro, 2002) : (a) Pendidikan masyarakat melalui media yang ada tentang bahaya dan kerugian kelahiran preterm atau BBLR; (b) Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal yang baik; (c) Mengusahakan makan lebih baik pada masa hamil agar tidak kekurangan gizi dan anemia; (d) Menghindarkan kerja berat selama hamil.
Menurut Manuaba (1998), persalinan preterm dapat dicegah dengan : (a) Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur; (b) Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm; (c) Memberikan nasihat tentang gizi saat kehamilan, meningkatkan pengertian KB-interval, memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi / diobati; (d) Meningkatkan keadaan sosial – ekonomi keluarga dan kesehatan lingkungan.
Partus prematurus menurut Mochtar (199) dapat dicegah dengan mengambil langkah-langkah berikut ini : (a) Jangan kawin terlalu muda dan jangan pula terlalu tua (idealnya 20 sampai 30 tahun); (b) Perbaiki keadaan sosial ekonomi; (c) Cegah infeksi saluran kencing; (d) Berikan makanan ibu yang baik, cukup lemak , dan protein; (e) Cuti hamil; (f) Prenatal care yang baik dan teratur; (g) Pakailah kontrasepsi untuk menjarangkan anak
5. Pertolongan Persalinan Preterm dan Kewenangan Bidan
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan, disebutkan pada Kompetensi ke 4 bahwa Bidan harus memiliki pengetahuan dasar dan berwenang memberikan pertolongan persalinan abnormal pada : perdarahan, partus macet, kelainan presentasi, eklamsia kelelahan ibu, gawat janin, infeksi, ketuban pecah dini tanpa infeksi, distosia karena inersia uteri primer, post term dan pre term serta tali pusat menumbung. Sehingga dengan peran bidan sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti dapat melakukan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap persalinan preterm.
Meskipun demikian, sebagai bidan dengan fasilitas terbatas maka persalinan preterm sebaiknya dikonsultasikan dan sedapat mungkin dilakukan rujukan ke rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat (Manuaba, 1998).

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: