RSS

Ruptur Perineum

09 Des

Perineum merupakan kumpulan berbagai jaringan yang membentuk perineum. Perineum terletak antara vulva dan anus, panjangnya kira-kira 4 cm. Jaringan yang menopang perineum adalah diafragma pelvis dan urogenital. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani dan muskulus koksigis di bagian posterior serta selubung fasia dari otot-otot ini. Muskulus levator ani membentuk sabuk otot yang lebar bermula dari permukaan posterior ramus phubis superior, dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari fasia obruratorius. Diafragma urogenitalis terletak di sebelah luar diafragma pelvis, yaitu di daerah segitiga antara tuberositas iskial dan simpisis phubis. Diafragma urogenital terdiri dari muskulus pernialis transversalis profunda, muskulus konstriktor uretra dan selubung fasia interna dan eksterna. (Cunningham, 2006).

Persatuan antara mediana levatorani yang terletak antara anus dan vagina diperkuat oleh tendon sentralis perineum, tempat bersatu bulbokavernosus, muskulus pernialis transversalis superficial dan sfingter ani ekterna. Jaringan ini yang membentuk korpus pernialis dan merupakan pendukung utama perineum. Jaringan ini sering robek selama persalinan, kecuali dilakukan episiotomi yang memadai pada saat yang tepat. Infeksi setempat pada luka episiotomi merupakan infeksi masa puerperium yang paling sering ditemukan pada genetalia ekterna. (Hapsari, 2009)

Ruptur perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Ruptur perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. (Depkes RI, 2001).

Ruptur perineum adalah ruptur yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan, karena perineum tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktivitas peristaltik normal (dengan menjaga tekanan intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat (Depkes RI, 2001).

Menurut JNPK-KR (2007) ruptur perineum dibagi dalam tingkatan-tingkatan sebagai berikut:

1. Tingkat I : Ruptur hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.

2. Tingkat II : Ruptur mengenai selaput lendir vagina dan otot perinea transversalis, tetapi tidak mengenai springter ani.

3. Tingkat III : Ruptur mengenai seluruh perineum dan otot springter ani.

4. Tingkat IV : Ruptur sampai mukosa rektum.

Menurut Hapsari (2009) tanda dan gelaja ruptur perineum sebagai berikut:

1. Perdarahan segera

2. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

3. Uterus kontraksi baik

4. Plasenta baik

Menurut Hapsari (2009) gejala dan tanda yang kadang-kadang ada:

1. Pucat

2. Lemah

3. Menggigil

C. Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Kejadian Ruptur Perineum

Penyebab ruptur perineum menurut Oxorn (1996), yaitu :

1. Maternal

a. Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong (sebab paling sering).

b. Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebih.

c. Edema dan kerapuhan pada perineum.

d. Varikositas vulva yang melemahkan jaringan perineum.

e. Arcus pubis sempit dengan pintu bawah panggul yang sempit pula sehingga menekan bayi di arah posterior.

f. Perluasan episiotomi.

2. Fetal

a. Bayi yang besar.

b. Posisi kepala yang abnormal, misalnya presentasi muka dan occipito-posterior.

c. Kelahiran bokong.

d. Distosia bahu.

e. Anomali kongenital, seperti hydrocephalus.

Menurut Depkes RI (2001 ) faktor-faktor yang berpengaruh pada ruptur perineum antara lain :

1. Umur

Umur adalah jumlah hari, bulan, tahun yang telah dilalui sejak lahir sampai dengan waktu tertentu. Pada usia reproduktif (20-30 tahun) terjadi kesiapan respon maksimal baik dalam hal mempelajari sesuatu atau dalam menyesuaikan hal-hal tertentu dan setelah itu sedikit demi sedikit menurun seiring dengan bertambahnya umur. Selain itu pada usia reproduktif mereka lebih terbuka terhadap orang lain dan biasanya mereka akan saling bertukar pengalaman tentang hal yang sama yang pernah mereka alami. (Hurlock, E.B, 2002).

Wanita melahirkan anak pada usia < 20 tahun atau > 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia di bawah 20 tahun, fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna. Sedangkan pada usia > 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan terutama perdarahan akan lebih besar.

2. Paritas

Paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai viabilitas dan telah dilahirkan tanpa melihat jumlah anak. Kelahiran kembar hanya dihitung satu paritas (Oxorn, 1996).

Paritas merupakan frekuensi ibu pernah melahirkan anak, hidup atau mati tetapi bukan aborsi, selanjutnya tingkat paritas dijelaskan sebagai berikut: primigravida yaitu ibu yang pernah hamil satu kali, multigravida adalah ibu yang pernah hamil 2-4 kali, dan grande multigravida adalah ibu yang pernah hamil 5 kali atau lebih. Primipara adalah ibu yang pernah melahirkan satu kali, sedangkan multipara adalah ibu yang pernah melahirkan 2-4 kali. Tingkat paritas telah banyak menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan ibu dan anak. Dikatakan demikian karena terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari pada yang berparitas tinggi (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Prawirohardjo (2006) bahwa ruptur perineum terjadi hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Ruptur perineum pada umumnya terjadi di garis tengah dan menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arcus pubis lebih kecil daripada normalnya sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sinkumferensia suboksipito-bregmatika, atau anak lahir dengan pembedahan vaginal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 09/12/2010 in Kebidanan, Nifas

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: