RSS

Asfiksia Neonatorum

03 Des
  1. Definisi

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan teratur setelah melahirkan (Prawirohardjo, 2002). Kejadian asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir (Aminullah,A, 2005).

  1. Etiologi

Penyebab terjadinya asfiksia menurut (Manuaba, 2001) :

  1. Faktor Intrauterin

1)    Keadaan Ibu

a)    Hipotensi (syok) dengan berbagai sebab

b)    Penyakit kardiovaskuler dan paru

c)    Anemia / malnutrisi

d)    Keadaan asidosis / dehidrasi

e)    Sindrom supin-hipotensi (posisi tidur)

f)     Penyakit diabetes melitus

2)    Uterus

a)    Kontraksi uterus yang berlebihan

b)    Gangguan sistem pembuluh darah uterus

3)    Placenta

a)    Gangguan pembuluh darah placenta

b)    Perdarahan pada placenta pravia

c)    Solusio placenta

d)    Gangguan pertumbuhan placenta

4)    Tali Pusat

a)    Kompresi tali pusat

b)    Simpul tali pusat

c)    Tali pusat terpuntir pada tempat jelli whartom yang lemah

d)    Lilitan tali pusat

e)    Prolapsus / tali pusat terkemuka

5)    Fetus

a)    Infeksi intrauterin

b)    Gangguan pertumbuhan intrauterin

c)    Perdarahan pada janin

d)    Anemia

  1. Faktor Umur Kehamilan

1)    Persalinan premature/BBLR

2)    Persalinan presipitatus

3)    Persalinan lewat waktu

  1. Faktor Persalinan

1)    Persalinan memanjang / terlantar

2)    Persalinan dengan tindakan operatif

3)    Persalinan dengan induksi

4)    Persalinan dengan anestesi

5)    Perdarahan (solusio placenta marginalis)

  1. Faktor Buatan (Iatrogenik)

1)    Sindrom hipotensi – supinasi (posisi tidur)

2)    Asfiksia intrauterin pada induksi persalinan

3)    Asfiksia intrauterin pada persalinan dengan anestesi

  1. Klasifikasi Klinis Asfiksia

Klasifikasi klinis asfiksia dibagi dalam 2 macam :

  1. Asfiksia Livida, ciri-cirinya : warna kulit kebiru-biruan, tonus otot masih baik, reaksi rangsangan positif, bunyi jantung reguler, prognosi lebih baik.
  2. Asfiksia Pallida, ciri-cirinya : warna kulit pucat, tonus otot sudah kurang, tidak ada reaksi rangsangan, bunyi jantung irreguler, prognosis jelek.
  3. Patofisiologi Asfiksia Intrauterin

Pada asfiksia (hipoksia) intrauterin, dengan semakin turunnya tekanan O2 atau dengan adanya kekurangan nutrisi, maka akan terjadi perubahan metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik dalam pemecahan glukosa / glikogen (melalui tes) dan protein. Glukosa yang pertama akan dipecah adalah cadangan dalam lever (hati) dan lemak diubah menjadi glukosa (Manuaba, 2001).

Gangguan pertukaran gas dan transpor O2 dapat terjadi karena kelainan dalam kehamilan atau persalinan yang bersifat menahun atau mendadak. Kelainan menahun seperti gizi ibu yang buruk atau penyakit menahun pada ibu (anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain) dapat ditanggulangi dengan melakukan pemeriksaan antenatal ibu yang teratur. Kelainan yang bersifat mendadak yang umumnya terjadi pada persalinan hampir selalu mengakibatkan anoksia / hipoksia yang berakhir dengan asfiksia bayi (Kapita Selekta Kedokteran, ???).

  1. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoreksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian (Prawirohardjo, 2005) :

  1. Denyut Jantung Janin

Frekuensi normal adalah antara 120 dan 160 denyutan dalam semenit. Selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai dibawah 100 semenit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal ini merupakan tanda bahaya.

  1. Mekonium Dalam Air Ketuban

Pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

  1. Pemeriksaan Darah Janin

Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7.2, hal itu dianggap sebagai tanda bahaya. Selain itu kelahiran bayi yang telah menunjukkan tanda-tanda gawat janin mungkin disertai dengan asfiksia neonatorum, sehingga perlu diadakan persiapan untuk menghadapi keadaan tersebut jika terdapat asfiksia.

Tingkatnya perlu dikenal untuk dapat melakukan resusitasi yang sempurna. Untuk hal ini diperlukan cara penilaian menurut APGAR.

Tabel 3. Nilai Apgar Skor

Tanda-tanda Vital Nilai = 0 Nilai = 1 Nilai = 2
Appearance  

(warna kulit)

Seluruh tubuh biru atau putih Badan merah, kaki biru Seluruh tubuh kemerah-merahan
Pulse 

(bunyi jantung)

Tidak ada Kurang dari 

100 x/ menit

Lebih dari 

150 x/ menit

Grimance  

(reflek)

Tidak ada 

Lunglai

Menyeringai 

Fleksi ekstremitas

Batuk dan bersin
Activity 

(tonus otot)

Tidak ada Fleksi kuat, gerak aktif
Respirotary  

effort   (usaha bernafas)

Tidak ada Lambat atau  tidak ada Menangis kuat atau keras

Sumber : Mochtar (1998)

  1. Klasifikasi

Tabel 3. Derajat Vitalitas Bayi Baru Lahir menurut Apgar

Klasifikasi Nilai APGAR Derajat Vitalitas

Asfiksia Ringan/tanpa asfiksia

7-10 Tangisan kuat disertai gerakan aktif

Asfiksia Ringan

4-6 -Pernafasan tidak teratur, megap-megap, atau tidak ada pernafasan

Asfiksia Berat

0-3 Denyut jantung < 100x/menit atau kurang

Fres Stillbirth

(Bayi Lahir Mati)

0 Tidak ada pernafasan 

Tidak ada denyut jantung

Penilaian status klinik digunakan penilaian Apgar untuk menentukan keadaan bayi pada menit ke-1 dan ke-5 sesudah lahir. Nilai pada menit pertama untuk menentukan seberapa jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan asidosis dan kelangsungan hidup. Nilai pada menit kelima untuk menilai prognosis neorologik (Marjono AB, 1992).

  1. Penatalaksanaan
    1. Nilai APGAR 7 – 10 (bayi dinyatakan baik)

Pada keadaan ini bayi tidak memerlukan tindakan istimewa. penatalaksanaan terdiri dari :

  1. Memberikan lingkungan suhu yang baik pada bayi
  2. Pembersihan jalan napas bagian atas dari lendir dan sisa-sisa darah
  3. Kalau perlu melakukan rangsangan pada bayi (Kapita Selekta Kedokteran, 1982).
  1. Nilai APGAR 4 – 6 (asfiksia ringan – sedang)

Cara penanganannya :

  1. Menerima bayi dengan kain hangat
  2. Letakkan bayi pada meja resusitasi
  3. Bersihkan jalan napas bayi
  4. Berikan oksigen 2 liter per menit. Bila berhasil teruskan perawatan selanjutnya
  5. Bila belum berhasil rangsang pernapasan dengan menepuk-nepuk telapak kaki, bila tidak berhasil juga pasang penlon masker di pompa 60 x / menit
  6. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis, biasanya diberikan terapi natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6 cc, dekstrose 40% sebanyak 4 cc, disuntikkan melalui vena umbilikalis masukkan perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya perdarahan intra kranial karena perubahan pH darah mendadak (EGC, 1995).

  1. Nilai APGAR 0 – 3 (asfiksia berat)

Menurut Prawirohardjo (2005), Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama ialah memperbaiki ventiliasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan langsung dan berulang-ulang. Cara yang terbaik ialah melakukan inkubasi endotrakeal dan setelah kateter di masukkan ke dalam trakea, O2 diberikan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml air. Tekanan positif dikerjakan dengan meniupkan udara yang telah diperkaya dengan O2 melalui kateter. Untuk mencapai tekanan 30 ml, air peniupan yang dapat dilakukan dengan kekuatan kurang lebih 1/3 – ½ dari tiupan maksimal yang dapat dikerjakan.

Untuk memperoleh tekanan yang positif yang lebih aman dan efektif, dapat digunakan pompa resusitasi. Pompa ini dihubungkan dengan kateter trakea, kemudian udara dengan O2 dipompakan secara teratur dengan memperhatikan gerakan-gerakan dinding toraks. Bila bayi telah memperlihatkan pernapasan spontan, keteter trakea segera dikeluarkan.

Keadaan asfiksia berat ini hampir selalu disertai asidosis yang segera membutuhkan bikarbonas natrikus 7,5 dengan dosis 2 – 4 ml / kg berat badan. Diberikan dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Untuk menghindarkan efek samping obat, pemberian harus diencerkan dengan air steril atau kedua obat diberikan bersama-sama dengan satu semprit melalui pembuluh darah umbilikus.

Bila setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun (kurang dari 100 permenit) maka pemberian obat-obat lain serta massege jantung segera dilakukan. Massege jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80 – 100 per menit. Tindakan ini dilakukan berselingan dengan napas buatan, yaitu setiap 5 kali massege jantung diikuti dengan satu kali pemberian napas buatan. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoraks atau pneumomediastinum apabila tindakan dilakukan secara bersamaan.

Di samping massege jantung ini, obat-obatan yang diberikan antara lain adalah larutan 1 / 10.000 adrenalin dengan dosis 0,5 – 1 cc secara intravena / intrakardial (untuk meningkatkan frekuensi jantung) dan kalsium glukonet 50 – 100 mg / kg berat badan secara perlahan-lahan melalui intravena (sebagai obat inotropik).

Bila tindakan-tindakan tersebut diatas tidak memberikan hasil yang diharapkan, hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam dan basa yang belum diperbaiki secara semestinya, adanya gangguan organik seperti hernia diafragmatika, atresia atau stenosis jalan napas, dan lain-lain.

  1. Penatalaksanaan

Prinsip resusitasi (Prawirohardjo, 2005)

  1. Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan napas.
  2. Memberikan bantuan pernapasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernapasan buatan.
  3. Memperbaiki asidosis yang terjadi.
  4. Menjaga agar peredaran darah tetap baik.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 03/12/2010 in Kebidanan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: