RSS

DIARE

11 Des

a. Pengertian

Pengertian diare pada masyarakat awam sering disosialisasikan dengan mencret. Menurut Ngatiyah (2005), diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat juga bercampur lendir dan darah atau lendir saja.

b. Jenis Diare

1)    Diare Akut

Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, berlangsung kurang dari 14 hari, dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lender dan darah.

2)    Diare persisten

Adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronis.

3)    Diare kronis

Adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitive terhadap gluten atau gangguan metabolism yang menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari.

c. Etiologi

Menurut Ngastiyah (2005), penyebab terjadinya diare adalah sebagai berikut:

1)    Faktor infeksi

a)    Infeksi enternal

Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi:

(1)   Infeksi bakteri: Vibrio F. Co;i, Shigella, Shalmonella, Campylobacter, yersina, Aeromonas.

(2)   Infeksi virus: Enterovirus (virus ECHO, Coxackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain.

(3)   Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Stongyloides), Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Trichomonas homonis), jamur (Candida albicans).

b)    Infeksi parenteral

Ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti ototis media akut, tonsilitis/tonsilofaringtis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

2)    Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat meliputi disakarida (Intoleransi lactosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering intoleransi laktosa. Selain itu malabsorbsi lemak dan protein.

3)    Faktor makanan

Diare dapat disebabkan oleh intoksikasi makanan, makanan pedas, makanan yang mengandung bakteri atau toksin. Alergi terhadap makanan tertentu seperti susu sapi, terjadi malabsorbsi karbohidrat, disakarida, lemak, protein, vitamin ,dan mineral.

4)    Terapi Obat

Obat-obatan yang dapat menyebabkan diare diantaranya antibiotik, antasid. Antibiotika akan menekan flora normal usus sehingga organisme akan resisten.

5)    Faktor Psikologis

Meliputi rasa takut dan cemas. Walaupun jarang menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih dewasa.

6)    Faktor sosial ekonomi

Faktor sosial ekonomi mempengaruhi tingkat sanitasi pemukiman yang berperan terhadap terjadinya kesakitan diare.

7)    Faktor pendidikan

Pendidikan orang tua mempunyai peranan yang penting dalam kaitannnya dengan kejadian diare. Faktor pendidikan sangat berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua terhadap masalah kesehatan.

8)    Lingkungan

Menurut model segitiga epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat beroperasinya faktor agen, host dan lingkungan. Menurut model roda timbulnya penyakit tergantung dari lingkungan.

Penyakit-penyakit tersebut seperti diare, kholera, campak, demam berdarah dengue, difteri, pertusis, malaria, influenza, hepatitis, tifus dan lain-lain yang dapat ditelusuri determinan-determinan lingkungannya

9)    Musim

Secara umum penyakit yang datang pada musim penghujan ialah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), diare dan demam berdarah. Penyakit yang biasa menjadi kejadian luar biasa (KLB) adalah demam berdarah dan diare. Jika air menggenang cukup lama, biasanya menyebabkan diare kurangnya sanitasi yang bersih di lingkungan sekitar (Guntoro cit Wibowo, 2009).

d. Tanda dan Gejala

Gejala diare adalah tinja yang encer, berlendir, atau berdarah dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari. Selain itu juga disertai muntah-muntah sebelum atau sesudah diare, bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah, suhu badan meninggi, warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan empedu, dan tidak nafsu makan. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebakan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.

e. Patofisiologi

Sebagai akibat dari diare baik akut maupun kronik akan terjadi:

(1) kehilangan air dan elektrolit / terjadi dehidrasi yang menyebabkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemi)

(2) gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan barang, pengeluaran bertambah). Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan karena makanan sering dihentikan oleh orang tua. Walaupun susu diteruskan sering diberikan pengenceran. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.

(3) Hipokalemia

Pada anak-anak dengan gizi cukup atau baik, hipoglikemia ini jarang terjadi, lebiih terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan  kalori protein (KKP). Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa menurun sampai 40 mg % pada bayi dan 50 mg % pada anak-anak. Gejala hipoglikemia tersebut dapat berupa: lemas, apatis, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang  sampai koma.

(4) gangguan sirkulasi darah

gangguan sirkulasi darah berupa renjatan atau syok hipovolemik. Akibanya perfusi jaringan darah berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan pendarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila penderita tidak segera ditolong dapat meninggal.

f. Pencegahan

Untuk menurunkan angka kejadian diare maka diperlukan upaya-paya pencegahan seperti; menggunakan air bersih, selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, penggunaan jamban untuk membuang tinja, memberikan ASI, memperbaiki makanan pendamping ASI, serta memberikan imunisasi campak.

Tindakan dalam pencegahan ini antara lain dengan memperbaiki keadaan lingkungan seperti penyediaan sumber air minum yang bersih, pengunaan jamban, pembuangan sampah pada tempatnya, sanitasi perumahan dan penyediaan tempat pembuangan air limbah yang layak. Perbaikan perlaku ibu terhadap balita seperti pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun, perbaikan cara menyapih, kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas, membuang tinja anak pada tempat yang tepat, memberika imunisasi campak. Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan sehingga perliaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat (notoadmodjo, 2003).

g. Penatalaksaan

pergantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang paling penting dalam terapi efektif diare akut. Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai berdasarkan berat badan dibandingkan dengan berat badan sebelumnya. Hidrasi oral biasanya merupakan pengobatan pilihan untuk semua kasus diare kecuali penderita yang mengalami dehidrasi berat. Persediaan obat-obatan rumah termasuk minuman soda dekarbonisasi, jus buah, jeli-O, Kool-aid, dan teh tidak baik digunakan karena bahan-bahan ini berisi osmolalitas yang sangat tidak tepat karena kadar karbohidrat yang berlebihan dapat menyebabkan hiponatremi, dan rasio karbohidrat terhadap natrium tidak tepat (Nelson, 2000).

Larutan yang disarankan oleh Diarrhea disease control progam dari WHO adalah yang kita kenal sebagai oralit atau disebut cairan dehidrasi oral dengan kandungan glukosa, natrium klorida, dan trisodium sitrat.

About these ads
 

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 751 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: